아파도 여기서 끝내야 해 (Although
it Hurts, We should End it Here)
A story by JH Nimm ©
Title: Although its Hurts, We should End it Here
Also known as: Our Ending
Genre: Sad, Family, Melodrama
Rating: PG-15
Length: Oneshot
Karakter, tempat,
organisasi, agama, dan kejadian dalam cerita ini adalah fiksi.
Happy reading… Thank you… :3
Note: yang ditulis miring
adalah FLASHBACK!!!
BGM:
Seo Eun
Kwang (BtoB) – Like that Day
Mateo –
Goodbye
Cast:
Jung
Jinyoung, Lee Jihyeon, Han Seungwoo, Han Sunhwa, Yoo Ahyoung, Woo Jihoon, dll.
== PROLOGUE ==
Tidak peduli berapa banyak waktu yang telah
kita habiskan bersama-sama, namun masih tidak ada perasaan bernama cinta yang
mampu menelusup ke dalam ruang hati kita. Aku sendiri pun bertanya-tanya,
apakah karena aku yang masih terlalu mencintainya atau karena aku hanya takut
untuk melukaimu seperti bagaimana aku terluka olehnya? (August 12, 2020)
-------
Langit
malam yang sudah larut itu semakin gelap, ditambah lagi dengan bulan yang tidak
muncul malam ini dikarenakan awan mendung yang menyelimuti kota Seoul sejak
petang tadi namun tidak ada tanda-tanda hujan akan turun. Dengan langkah yang
sempoyongan, seorang laki-laki berusia awal 40-an itu menuju ke sebuah pintu
berwarna hitam dan segera setelah sampai di depan pintu itu, dia menatapnya
sejenak sebelum akhirnya mengarahkan jari telunjuknya untuk mulai menekan kata
sandi untuk membuka pintu apartemennya itu.
KLIK!
Terdengar
suara kunci yang terbuka setelah laki-laki bernama Jung Jinyoung itu selesai
memasukkan kata sandinya. Dia pun membuka pintu berwarna hitam itu dan masuk ke
dalam apartemennya. Sejenak dia hentikan langkahnya dan menatap sekitarnya.
Sepi. Ya, sepi karena saat ini hanya ada dia di dalam apartemen yang luas itu
sendirian. Jujur, ada rasa kehilangan saat mulai dari hari ini dia harus
menjalani hidupnya sendirian lagi. Tidak ada yang menyambutnya saat pulang
selarut apapun.
Setelah
menghela napasnya dan menepis berbagai pikiran dan penyesalan yang mulai
menyerang batinnya, Jung Jinyoung pun menuju ke kamarnya. Dia membaringkan
tubuhnya di tempat tidur berukuran King yang terbalut dengan sprei
berwarna biru muda itu tanpa mempedulikan sepatunya masih terpasang sempurna
dan dasi yang masih terikat di lehernya. Perlahan, karena pengaruh alkohol yang
cukup untuk mengambil alih pikirannya, dia pun tertidur.
***
Sinar
matahari pagi mulai menyorot menembus sela-sela gorden berwarna krem yang
tergantung di kamar bernuansa biru tua itu. Di dalam kamar itu, tampak Jinyoung
yang masih terbaring di tempat tidurnya. Menyadari pagi telah datang, perlahan
Jinyoung pun membuka matanya dan dia menyadari bahwa tidak ada siapapun yang
membangunkannya dan membantunya bersiap untuk berangkat ke kantornya. Tanpa dia
sadari, tangannya terarah untuk membelai tempat tidurnya yang kosong dan hanya
ada dirinya saja itu. Namun seketika itu juga dia menyadari bahwa memang sejak
awal tidak pernah ada yang tidur di sana untuk menemaninya.
Setelah
mengumpulkan kembali kesadarannya, Jinyoung menuju ke kamar mandi dan bersiap.
Barulah setelah semua persiapannya selesai, Jinyoung menuju ke meja makan yang
kini kosong, tidak ada sarapan yang biasanya tersaji untuk dia sarapan sebelum
berangkat ke kantor. Tak bisa dipungkiri, dia memang merindukan sarapan yang
dimasak langsung oleh seorang perempuan yang kini telah tidak ada lagi di
sampingnya itu.
***
Siang
yang cukup terik. Saat itu, Jinyoung memutuskan untuk makan siang di luar
setelah bertemu dengan calon investor baru di perusahaannya. Tanpa dia duga,
seorang perempuan datang dan segera menghampirinya.
“Rupanya
kau di sini…” ucap perempuan itu.
“Oh…”
jawab Jinyoung singkat.
Perempuan
itu pun lantas duduk di depan Jinyoung yang sedang menyantap makan siangnya.
“Bagaimana?”
tanya perempuan itu.
“Apa?”
tanya Jinyoung balik.
Perempuan
itu mengerucutkan bibirnya saat Jinyoung hanya menjawab pertanyaannya dengan
pertanyaannya lagi.
“Proses—”
“Ahyoung-a…”
Perempuan
bernama Ahyoung, Yoo Ahyoung, itu agak terkejut saat Jinyoung memotong
kata-katanya.
“Bisakah
kita tidak membahas ini dulu sekarang?”
“Arasseo
[Baiklah],”
Jinyoung
pun melanjutkan makan siangnya, sedangkan Ahyoung sibuk membicarakan hal-hal
yang dia senangi yang sebenarnya Jinyoung tidak suka dengarkan.
Setelah
selesai makan siang, Ahyoung masih sibuk mengekor Jinyoung dan bahkan kini
melingkarkan tangannya di lengan Jinyoung. Saat Ahyoung melingkarkan tangannya,
Jinyoung sempat menghentikan langkahnya dan menatap Ahyoung.
“Wae
[Kenapa]?” tanya Ahyoung.
Jinyoung
tidak memberi jawaban dan kemudian melanjutkan kembali langkahnya. Sejujurnya,
saat ini dia sama sekali tidak ingin diganggu oleh siapapun, termasuk Ahyoung.
Namun apa yang bisa dia lakukan saat Ahyoung kini bersamanya dan hanya akan
terus mengikutinya.
***
“Noona…”
sapa seorang laki-laki berwajah tampan itu sambil menyodorkan sebotol minuman
pada seorang perempuan berjas putih yang tengah sibuk dengan beberapa dokumen
itu.
“Oh?
Gomawo, Seungwoo-ya…” ucap perempuan itu sambil menerima minuman itu.
“Sedang
sibuk?” tanya laki-laki bernama Seungwoo itu.
“Lumayan…”
jawab perempuan bernama Jihyeon itu. “Kau tahu, bulan ini banyak sekali acara
yang melibatkan anak-anak, jadi aku harus lebih memperhatikannya,”
Seungwoo
hanya menatap Jihyeon. Sekilas saja, dia tahu bahwa Jihyeon sebenarnya sedang
mencoba menyibukkan dirinya dan mengalihkan perhatiannya dari hal yang saat ini
sedang dia tempuh itu. Sebenarnya, ada satu hal yang ingin dia beritahukan pada
Jihyeon, namun urung karena dia tahu saat ini Jihyeon akan berada dalam
kesulitan lagi jika dia mengatakannya.
“Noona,
sesibuk apapun, aku hanya ingin mengingatkan agar jangan sampai kau lupa
makan dan lupa istirahat. Ingat, ada aku yang akan selalu membantumu,” ucap
Seungwoo.
Jihyeon
hanya tersenyum mendengar ucapan Seungwoo yang juga sedang tersenyum padanya.
“Kalau
begitu, aku akan kembali bekerja,” ucap Seungwoo seraya meninggalkan ruangan
Jihyeon.
Ddrrt
ddrrt~
Baru
saja Seungwoo pergi, ponsel Jihyeon bergetar dan itu merupakan pesan dari
Sunhwa yang merupakan kakak kandung Seungwoo.
Berkasnya
sudah kuterima, akan kuantarkan ke tempatmu nanti.
Sebuah
pesan singkat dari Sunhwa yang membuat Jihyeon tenggelam dalam dilema. Dia
sendiri bahkan tidak tahu apakah dia harus bahagia, lega atau berat mendengar
kabar dari Sunhwa ini. Jihyeon pun memutuskan untuk menelepon Sunhwa.
“Oh?”
“Eonni, tidak usah mengantarkannya,
biar aku mengambil keduanya sepulang kerja nanti,”
“Keduanya?”
“Aku
ingin menyerahkan berkas itu langsung padanya dan--”
“Arasseo
[Baiklah]…”
Di
sana, Sunhwa memotong pembicaraan Jihyeon karena dia tahu benar apa yang
Jihyeon maksudkan dengan akan mengambil kedua berkas itu darinya.
“Kalau
begitu, aku akan menunggumu di kantorku,”
“Baiklah,”
“Jihyeon-a,
bagaimana jika setelah itu kita pergi bersama?”
“Mianhae
Eonni [Maaf Eonni], ada yang harus kulakukan setelah dari tempatmu. Tapi aku
pastikan setelah semuanya selesai, aku akan mentraktirmu di tempat yang bagus.”
Setelah
percakapan singkat itu, Jihyeon pun mengakhiri teleponnya dengan Sunhwa.
Sejenak, Jihyeon menatap ke sebuah bingkai foto yang terpajang di meja
kerjanya. Perlahan, ia pun mengambil bingkai foto itu dan memasukannya ke dalam
laci meja kerjanya. Meskipun berat, tapi dia harus melakukannya karena sekarang
semuanya telah berakhir.
Rupanya,
di balik pintu, masih ada Seungwoo yang memperhatikan Jihyeon dan hanya menatap
Jihyeon dengan mata yang sedih saat mengetahui Jihyeon pasti berada dalam saat
yang sulit saat ini namun dia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu Jihyeon.
***
Jam
sudah menunjukkan jam 5 sore, dan itu artinya sudah waktunya pulang kerja.
Jihyeon pun bersiap untuk menuju ke mobilnya, sebelum akhirnya Seungwoo
menghentikannya.
“Noona…”
“Ya?”
“Kau
tampak terburu-buru, mau ke mana?”
“Oh,
ke kantor kakakmu,”
Tanpa
perlu menjelaskan lebih jauh, Jihyeon tahu pasti Seungwoo sudah tahu maksud
kedatangannya ke kantor kakaknya.
“Bagaimana
jika kita berangkat bersama? Aku akan menjemput Sunhwa Noona juga,”
“Kaja
[Ayo],”
Meskipun
dengan menumpangi mobil yang berbeda, Jihyeon dan Seungwoo pergi ke kantor
Sunhwa bersama-sama. Selama di perjalanan, Seungwoo terus memperhatikan mobil
berwarna putih yang Jihyeon kendarai yang berada di depannya itu.
“Ini
pasti berat untukmu…” batin Seungwoo.
Setelah
10 menit, Seungwoo dan Jihyeon sampai di kantor Sunhwa. Saat itu, Sunhwa sedang
menunggu Jihyeon di ruangannya.
“Oh,
kau sudah datang? Masuklah,” ajak Sunhwa.
“Noona…”
ucap Seungwoo.
“Kau
juga datang?” tanya Sunhwa.
“Aku
datang untuk menjemputmu,” jawab Seungwoo.
Jihyeon
dan Seungwoo pun masuk ke ruangan Sunhwa. Setelah Jihyeon duduk, sebelum menyerahkan
berkas itu pada Jihyeon, Sunhwa menyuruh Seungwoo mengambilkan minum.
“Gwaenchanhayo
[Kau tidak apa-apa]?” tanya Sunhwa seraya duduk di depan Jihyeon.
Jihyeon
hanya menjawab Sunhwa dengan senyuman, senyuman yang sebenarnya tampak pahit
bagi Sunhwa.
“Kalau
begitu…”
Ucapan
Sunhwa tertahan saat melihat Seungwoo sudah kembali dengan 3 gelas minuman yang
dia bawakan dan menunggu sampai Seungwoo menaruh ketiga gelas itu di meja.
“Jihyeon-a…”
“Hm?”
Sunhwa
pun menaruh dua map berwarna biru tua itu di atas meja.
“Gomawo
[Terima kasih], Eonni,”
Hanya
itu kata-kata yang keluar dari mulut Jihyeon saat Sunhwa memberikan dua map
berwarna biru tua itu padanya.
“Jihyeon-a,
tapi mengapa kau harus mengambil miliknya juga? Aku bisa menyerahkan langsung padanya
besok,”
“Ada
urusan yang harus kuselesaikan dengannya… untuk terakhir kalinya,”
“Baiklah.
Tapi semoga urusan kalian selesai dengan baik dan aku harap setelah ini, kau
akan menemukan kebahagiaanmu,”
“Gomawoyo
jeongmal [Terima kasih banyak],”
“Gwaenchanha
[Tidak apa-apa], sudah tugasku untuk membantumu,”
“Aku
sudah janji padamu nanti, cari saja tanggal yang kosong dan aku akan
mentraktirmu makan,”
Sunhwa
menggenggam tangan Jihyeon.
“Kau
melaluinya dengan baik,”
Jihyeon
juga menggenggam tangan Sunhwa.
Ya,
tanpa harus banyak berkata-kata, Jihyeon dan Sunhwa dapat saling memahami
dengan baik karena memang mereka telah lama berteman bahkan sejak masih kuliah
karena mereka tinggal satu kamar di asrama.
“Kalau
begitu, sekarang aku harus pergi,” ucap Jihyeon.
“Ke
mana?” tanya Sunhwa.
“Bagaimana
jika aku mengantarmu,” ucap Seungwoo.
“Gwaenchanha
[Tidak apa-apa], lagipula aku membawa mobilku,” jawab Jihyeon.
Jihyeon
pun mengambil kedua map berwarna biru tua itu dan berpamitan dana Sunhwa dan
Seungwoo. Saat Jihyeon keluar dari ruangan Sunhwa, Seungwoo menatap Sunhwa.
“Mwo
[Apa]?” tanya Sunhwa saat adiknya menatapnya.
“Molla
[Tidak tahu],” jawab Seungwoo seraya meninggalkan ruangan Sunhwa.
“Oh,
anak itu…” gerutu Sunhwa.
Seungwoo
pun mengejar Jihyeon sampai ke parkiran.
“Noona…”
teriak Seungwoo sebelum Jihyeon masuk ke mobilnya.
Jihyeon
hanya menatap Seungwoo yang tengah berlari ke arahnya.
Tanpa
berkata-kata, Seungwoo memeluk Jihyeon dengan erat. Tentu saja, pelukan
Seungwoo yang tiba-tiba itu membuat Jihyeon terkejut. Jihyeon hendak mendorong
Seungwoo, namun ia merasakan selain memeluknya, Seungwoo juga perlahan membelai
rambutnya. Bahkan melalui pelukan itu, Jihyeon dapat merasakan perasaan
Seungwoo padanya yang tidak pernah Seungwoo ungkapkan itu.
“Noona,
kau sudah melakukannya dengan baik. Jangan khawatir, aku pasti akan selalu ada
untukmu,” ucap Seungwoo.
“Seungwoo-ya…”
Seungwoo
pun melepaskan pelukannya. Ia genggam kedua bahu Jihyeon dan menatap pada kedua
mata Jihyeon langsung.
“Noona,
kau pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Jadi mulai sekarang, kau harus
lebih banyak tersenyum dan aku yakin kebahagiaan itu akan segera datang,”
Jihyeon
hanya menatap Seungwoo dan berusaha sekuat mungkin untuk tersenyum di hadapan
Seungwoo yang selalu mempedulikan dan memperlakukannya dengan baik itu.
“Gomawo
[Terima kasih], Seungwoo-ya…”
Seungwoo
pun membukakan pintu mobil Jihyeon dan mengantarkan kepergian Jihyeon sampai
mobil Jihyeon benar-benar menghilang dari pandangannya.
***
Jam
sudah menunjukkan pukul 20.00. Terbilang masih terlalu dini bagi Jinyoung untuk
pulang ke rumah, namun dengan semua hal yang telah terjadi selama beberapa
bulan terakhir ini membuatnya sangat lelah. Meskipun ada Ahyoung, namun hari
ini entah apa yang membawanya untuk pulang ke apartemennya lebih awal.
“Oh,
wasseo [kau sudah pulang]?”
Segera
setelah Jinyoung membuka pintu apartemennya yang berwarna hitam itu, dia
mendengar sebuah suara yang sebenarnya begitu dia rindukan itu menyambutnya. Mata
Jinyoung pun mendapati seorang perempuan sedang menunggunya.
“Oh…”
jawab Jinyoung sambil masuk ke dalam apartemennya.
Jinyoung
menatap perempuan itu dan kemudian duduk di depannya.
“Kau
masih belum mengganti kata sandi pintunya?” tanya perempuan itu.
“Aku
belum menemukannya,” jawab Jinyoung.
Tanpa
banyak berbasa-basi lagi, perempuan itu akhirnya menyerahkan sebuah map
berwarna biru tua itu pada Jinyoung.
“Ini…”
Ucapan
Jinyoung tertahan saat ia sadar bahwa isi dalam map berwarna biru tua itu adalah
hal yang akan mengubah hidupnya sekali lagi.
“Mulai
saat ini, kita tidak akan berurusan terhadap satu sama lain lagi. Terima kasih
atas 7 tahun selama kita bersama ini,”
“Jihyeon-a…”
Pada
akhirnya, Jinyoung menyebutkan nama perempuan yang telah hidup bersamanya
selama 7 tahun terakhir sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai. Ya,
isi dari map berwarna biru itu adalah surat perceraian mereka yang secara sah
telah diputuskan oleh pengadilan.
“Jeongmal
kkeuciya [Ini benar-benar berakhir]?”
Jinyoung
beranjak dari duduknya.
“Aku
rasa, tidak ada yang harus kita bicarakan lagi karena sekarang semuanya telah
diputuskan dan aku harap, mulai sekarang, kau juga bisa menemukan kebahagiaanmu
tanpa ada lagi penghalang, aku,”
Jihyeon
beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Jinyoung. Namun Jinyoung
menahannya dan memeluknya dari belakang.
“Jihyeon-a…”
Sebuah
pelukan untuk pertama kalinya setelah 7 tahun dan pelukan yang datang tepat
setelah mereka mengakhiri pernikahan mereka. Pun, selama 7 tahun ini mereka
tidak pernah berhubungan layaknya suami-istri lainnya. Tetapi tidak dapat
dipungkiri, meskipun memang pada awalnya mereka menikah bukan atas dasar cinta,
setelah hidup bersama selama 7 tahun, pada akhirnya perasaan itu perlahan
datang. Namun sayangnya, akhir yang mereka pilih bukanlah akhir yang
membahagiakan.
“Geuman
[Hentikan],” ucap Jihyeon.
Terdengar
sangat dingin bagi Jinyoung hingga akhirnya Jinyoung melepaskan pelukannya.
“Semuanya
sudah berakhir, jadi kumohon, mulai saat ini lepaskan aku,”
Jinyoung
pun menggenggam tangan Jihyeon.
“Maaf
dan terima kasih,”
“Untuk
apa?”
“Maaf
karena aku telah mengikatmu dalam pernikahan ini, dan maafkan aku jika selama 7
tahun ini aku tidak pernah bisa membuatmu bahagia sebagai seorang suami. Maafkan
aku atas semuanya. Juga, terima kasih telah menerimaku dan bersedia untuk hidup
bersama denganku selama 7 tahun ini. Terima kasih telah menjadi bagian dari
hidupku. Meskipun ini sangat singkat, aku akan mengingatnya sebagai kenangan
yang indah,”
Jihyeon
hanya menatap Jinyoung dan perlahan melepaskan genggaman tangan Jinyoung. Dia
takut, dengan semua yang Jinyoung lakukan, itu hanya akan membuatnya berubah
pikiran.
“Na
do [Aku juga]…” hanya itu kata yang sanggup keluar dari mulut Jihyeon.
“Jihyeon-a…”
“Semoga
kau bahagia,”
Jihyeon
hendak meninggalkan Jinyoung.
“Apa
benar-benar tidak ada kesempatan bagi kita untuk mengulangi semuanya lagi dari
awal?”
Langkah
Jihyeon sempat terhenti saat mendengar pertanyaan Jinyoung. Namun dengan semua
yang telah terjadi, meskipun memang perasaannya untuk Jinyoung telah sedikit
tumbuh di ruang hatinya, ia tidak mau jatuh di lubang yang sama. Jihyeon pun
meninggalkan Jinyoung, benar-benar meninggalkan Jinyoung tanpa menatapnya lagi.
“Jihyeon-a…”
***
Flashback 7 tahun yang lalu…
Malam itu, di sebuah restoran yang
bernuansa megah dan mewah, tampak dua keluarga sedang bertemu. Ya, kedua
keluarga itu adalah keluarga Lee, yang merupakan keluarga pemilik rumah sakit
khusus kanker yang cabangnya tersebar di seluruh Korea dengan keluarga Jung,
yang merupakan keluarga pemilik perusahaan produksi alat-alat medis dan
kesehatan yang sangat terkenal. Ya, mereka adalah keluarga Jihyeon dan
Jinyoung.
“Aku
yakin Jihyeon akan menjadi pasangan yang sempurna untuk uri Jinyoung,”
ucap ayah Jinyoung.
“Benar,
aku juga yakin, Jinyoung yang sudah sangat sukses di usia muda ini akan sangat
pantas untuk uri Jihyeon,” ucap
ayah Jihyeon.
Perbincangan
panjang tentang perjodohan Jinyoung dan Jihyeon pun terus berlangsung tanpa
memberi waktu untuk Jihyeon dan Jinyoung memberi pendapat mereka tentang
perjodohan ini.
“Bagaimana
jika kita beri waktu pada mereka untuk lebih saling mengenal?” tanya ayah
Jinyoung.
“Geurae,”
jawab ibu Jihyeon.
“Jihyeon-a,
Jinyoung-a, kalian boleh keluar untuk saling berbincang,” ucap ayah Jihyeon.
“Ne
[Baik],” jawab Jihyeon.
Jihyeon
pun beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan tempat kedua keluarga
bertemu.
“Jinyong-a,
cepat ikuti Jihyeon,” ucap ibu Jinyoung.
Jinyoung
pun keluar dan mengikuti Jihyeon yang ternyata menuju ke rooftop.
Sesampainya di rooftop, tidak
ada yang mereka bicarakan. Jihyeon hanya menatap kota Seoul yang diselimuti
langit malam itu, sedangkan Jinyoung hanya memperhatikan Jihyeon.
“Bagaimana
menurutmu?”
Pada
akhirnya, Jinyoung membuka obrolan dan berdiri di samping Jihyeon.
“Tidak
ada pilihan lain,” jawab Jihyeon.
Jinyoung
masih menatap Jihyeon. Dia cukup dibuat heran dengan Jihyeon yang sepertinya
sama sekali tidak keberatan dengan perjodohan mereka ini.
“Kau
sama sekali tidak keberatan? Menikah denganku, laki-laki yang bahkan tidak kau
kenali sama sekali,”
“Bagaimana
denganmu? Bukankah kau juga tidak mengenalku sama sekali,”
Jinyoung
terkejut dengan Jihyeon yang justru hanya menjawab pertanyaannya dengan
pertanyaan juga. Namun seketika saat ia teringat akan bagaimana gadis yang
begitu ia cintai menyakitinya, ia pun memutuskan untuk menerima perjodohan
dengan Jihyeon, gadis yang hanya namanya saja yang dia dengar sebagai dokter
spesialis kanker yang terkenal di Korea itu.
“Kurasa
memang tidak ada pilihan lain…” ucap Jinyoung.
***
Hari
ini adalah hari pernikahan Jinyoung dan Jihyeon. Jinyoung dengan pakaian serba
putih sedang menunggu sang mempelai perempuan di depan altar. Matanya
memperhatikan Jihyeon yang tengah berjalan menuju ke altar dengan diantarkan
oleh ayahnya. Bahkan saat ayah Jihyeon menyerahkan tangan Jihyeon padanya,
Jinyoung masih menatap Jihyeon yang tampak sangat cantik dalam balutan gaun
pengantin itu.
“Kau
yakin kita akan lanjutkan ini?” tanya Jinyoung.
Jihyeon
belum memberi jawaban, namun saat matanya menangkap sosok Woo Jihoon di barisan
para tamu yang menghadiri pernikahannya, Jihyeon pun mengangguk mantap.
Jinyoung pun mengikuti tatapan Jihyeon dan menemukan sesosok laki-laki yang
juga tengah menatap Jihyeon.
“Ah,
cham…” dengus Jinyoung.
“Jangan
berpura-pura seolah kau juga tulus dalam pernikahan ini,”
Ucapan
Jihyeon membuat Jinyoung terkejut.
“Apa
maksudmu?”
“Aku
juga tahu, kau menikahiku karena kau ditinggalkan oleh gadis yang sangat kau cintai
untuk mengejar impiannya,”
“Dari
mana kau tahu?”
Jihyeon
hanya tersenyum licik saat menemukan bahwa mereka berdua sama-sama munafik
dengan menerima perjodohan bahkan menikah hanya demi membalaskan dendam sakit
hati yang mereka alami saat mereka sama-sama ditinggalkan oleh orang yang
mereka cintai.
“Bagaimana?
Apa sudah bisa dimulai?” tanya pendeta yang baru saja datang itu.
Jihyeon
dan Jinyoung hanya saling bertatapan.
“Baiklah…”
Pendeta
pun bersiap dan mulai membacakan sumpah pernikahan untuk Jihyeon dan Jinyoung.
“Jung
Jinyoung, apakah kau bersedia menerima Lee Jihyeon sebagai istrimu, baik dalam
susah maupun senang, sehat ataupun sakit?”
Jinyoung
menatap Jihyeon.
“I
do!” jawab Jinyoung.
“Lee
Jihyeon, apakah kau bersedia menerima Jung Jinyoung sebagai suamimu, baik dalam
susah maupun senang, sehat ataupun sakit?”
Jihyeon
menatap Jinyoung yang juga sedang menatapnya itu.
“I…
do…” jawab Jihyeon.
***
== THE END ==
== EPILOGUE ==
Pada akhirnya, kita harus memilih
jalan perpisahan ini sebagai yang terbaik bagi kita. Bukan karena aku tidak
dapat mulai mencintaimu, tetapi aku hanya ingin mulai saat ini kita berhenti
saling menyakiti satu sama lain dan berhenti menyakiti diri kita sendiri dan
mulai menemukan kebahagiaan kita sendiri. (August 13, 2020)

Comments
Post a Comment