Skip to main content

[FF - Chaptered] 爱的影子 (Shadow of Love) Chap.1



的影子 (Shadow of Love)
A story by JH Nimm ©

Title: Shadow of Love
Also known as: Love’s Shadow
Genre: Romance, Fantasy, Sad, Historical, Xianxia
Rating: PG-15
Length: Chaptered
Karakter, tempat, organisasi, agama, dan kejadian dalam cerita ini adalah fiksi.
Happy reading… Thank you… :3

Note: yang ditulis miring adalah FLASHBACK!!!

BGM:
Mateo – Goodbye
Tia Ray – For You

== PROLOG ==
Di saat kelopak bunga persik terbang terbawa angin menuju ke barat, di atas Gunung Yingzi yang tertutup kabut sepanjang tahun dan di tengah Hutan Buxiu di mana pohon-pohon maple tetap menumbuhkan dedaunan berwarna hijau sepanjang empat musim, di sana lah ada aku yang masih tetap dengan setia menanti dirimu tanpa peduli berapa ratus ribu tahun pun telah berlalu. (August 14, 2020)
--------

== CHAPTER 1 ==
          “Kaisar Langit, ampuni Ah Xuan!” ucap seorang dewa bernama Fanxing sambil berlutut di hadapan Kaisar Langit.
          Bahkan tanpa menatap Fanxing, Kaisar Langit masih berpegang teguh pada pendiriannya yakni untuk menghukum Ah Xuan atas kesalahan besar yang Ah Xuan perbuat.
          “Pengawal! Seret dia ke Mimbar Eksekusi!” seru Kaisar Langit pada para pengawalnya.
          “Kaisar Langit, kumohon…” ucap Fanxing.
          Fanxing mencoba menahan para pengawal Istana Langit yang bersiap untuk menyeret Ah Xuan.
          “Siapapun yang mencoba membela Ah Xuan akan dianggap sebagai pemberontak dan akan diturunkan ke dunia manusia untuk menjalani hukuman selama 150,000 ribu tahun!”
          Kaisar Langit kembali mengeluarkan perintahnya saat dia melihat fanxing yang merupakan dewa kesayangannya itu terus membela sahabatnya, Ah Xuan. Namun Fanxing masih tak mengindahkan perintah Kaisar Langit, hingga akhirnya para pengawal harus menyeret Fanxing dan menahannya dari mengejar Ah Xuan.
          “Ah Xuan!” teriak Fanxing.
          Tiba di tepi Mimbar Eksekusi, Ah Xuan menatap Kaisar Langit.
          “Kaisar Langit, kesalahan besar apa yang aku perbuat sampai kau harus menghukumku seperti ini?”
          Kaisar Langit hanya menatap Ah Xuan. Memang agak tidak masuk akal untuk menghukum Ah Xuan hanya karena dia mencintai seorang gadis dari Suku Iblis. Namun bagaimanapun juga, Sembilan Langit dan Suku Iblis tidak pernah mampu berdamai dan perang dapat terjadi kapan saja antara kedua suku paling berpengaruh di alam semesta ini.
          “Apakah cinta adalah kesalahan?” tanya Ah Xuan dengan suara lirih.
          Perlahan buliran bening yang sejak tadi tertahan itu meluncur bebas di kedua pipinya yang dipenuhi lebam dan luka yang diakibatkan oleh siksaan para pengawal. Tangisan itu bukan hanya karena dia tidak menerima bahwa cintanya dan gadis itu merupakan cinta terlarang yang pantas untuk mendapat hukuman paling berat di Sembilan Langit, namun juga Ah Xuan merasa tidak menyangka seorang Kaisar Langit yang sudah dia anggap sebagai ayahnya sendiri itu tega melakukan hal ini.
          “Dorong dia ke Mimbar Eksekusi!”
          Kaisar Langit pun menyerukan perintah terakhirnya untuk mendorong Ah Xuan ke Mimbar Eksekusi.
          “Tunggu!”
          Terdengar suara seorang gadis yang menghentikan Ah Xuan di detik terakhir sebelum dia benar-benar jatuh ke Mimbar Eksekusi.
          “Xin’er…”
          Gadis bernama Xin’er itupun menyerang para pengawal yang hampir saja menjatuhkan Ah Xuan ke Mimbar Eksekusi. Terjadi pertarungan antara para pengawal dengan Xin’er yang mencoba menyelamatkan Ah Xuan. Bahkan Dewa Perang pun turun tangan untuk melawan Xin’er hingga berhasil melukai Xin’er.
          “Beraninya gadis Suku Iblis menginjakkan kakinya di Sembilan Langit!” ucap Kaisar Langit seraya mengeluarkan panah dewanya.
Panah dewa Kaisar Langit merupakan panah sakti yang mampu melenyapkan siapapun dari Suku Iblis dan bahkan panah yang pernah memporak-porandakan seluruh Suku Iblis karena mampu merenggut nyawa Kaisar Iblis yang merupakan ayah Xin’er. Selain mampu merenggut nyawa siapapun yang berasal dari Suku Iblis, panah dewa Kaisar Langit juga mampu menimbulkan luka yang sangat parah meskipun panah itu mengenai dewa.
          Melihat Kaisar Langit mengeluarkan panah dewa, dengan segenap kekuatannya yang masih tersisa, Ah Xuan berusaha melindungi Xin’er.
          “Ah Xuan!” teriak Xin’er.
          Panah dewa Kaisar Langit mengenai dada Ah Xuan hingga membuat Ah Xuan terjatuh ke Mimbar Eksekusi.
          “Ah Xuan!”
          Sayap berwarna hitam muncul dari punggung Xin’er dan dengan kekuatannya yang tersisa bahkan tanpa menghiraukan luka-lukanya, Xin’er mengejar Ah Xuan yang terjatuh ke Mimbar Eksekusi. Bagaimanapun juga caranya, dia harus bisa menyelamatkan Ah Xuan dan jangan sampai Ah Xuan menerima hukuman hanya karena mencintainya.
          “Xin’er, jangan!” teriak Yunfeng.
          Xin’er masuk ke dalam Mimbar Eksekusi dan dengan kecepatan penuh terbang untuk menggapai tubuh Ah Xuan yang telah terkulai lemas dan tak sadarkan diri itu. Namun, seiring dengan semakin dalam dia masuk ke dalam Mimbar Eksekusi, kekuatan Xin’er semakin lemah, bahkan petir-petir yang berada di dalam Mimbar Eksekusi itu mulai menyambarnya.
          “Ah Xuan…”
          Buliran bening itu pada akhirnya mengalir bebas dari mata indah Xin’er yang masih berusaha menggapai Ah Xuan.
          “Ah Xuan…”
          Pada saat terakhir sebelum Ah Xuan memasuki lubang hitam, Xin’er berhasil menggapai tangan Ah Xuan.
          “Aku tidak akan membiarkanmu menjadi manusia hanya karena mencintaiku,” ucap Xin’er.
          Xin’er pun mengerahkan sekuat tenaganya yang masih tersisa. Dia keluarkan kekuatan terbesar yang dia miliki serta habiskan seluruh kultivasinya untuk menyelamatkan Ah Xuan dari Mimbar Eksekusi. Seiring dengan semakin rendahnya kultivasi Xin’er, seketika itu juga sebuah petir yang sangat dahsyat menyambar Xin’er hingga melepaskan genggaman tangan Xin’er dari tangan Ah Xuan. Xin’er pun terjatuh ke dalam lubang hitam di dasar Mimbar Eksekusi.
          “Aku akan menemuimu lagi di kehidupanku selanjutnya…” ucap Xin’er.
          Xin’er memejamkan matanya seiring dengan tubuhnya yang semakin dalam masuk ke lubang hitam itu. Seketika itu, muncul bayangan-bayangan akan kebersamaannya bersama Ah Xuan. Saat-saat membahagiakannya bersama Ah Xuan bagaikan sebuah cerita dalam buku yang terbayang sempurna dalam ingatannya. Halaman per halaman dari buku itu layaknya hari demi hari dia menikmati kebahagiaan bersama Ah Xuan yang ternyata tidak dapat bertahan selamanya. Permusuhan antara kedua suku yang tidak dapat didamaikan ini akhirnya memutus saat-saat membahagiakannya hingga akhirnya kini dia bahkan harus berhadapan dengan maut demi menyelamatkan orang yang dia cintai.
***

          Sejak Xin’er masuk ke Mimbar Eksekusi, sejak saat itu juga tidak pernah terdengar kabar tentangnya, baik di Langit maupun di wilayah-wilayah kekuasaan Suku Iblis, bahkan mereka mengutus anak buahnya untuk ke dunia manusia. Para Suku Iblis tanpa hentinya mencari keberadaan Xin’er. Namun jejak Xin’er benar-benar hilang. Bahkan di dunia manusia yang merupakan harapan terakhir mereka akan menemukan Xin’er, sama sekali tidak ditemukan kelahiran kembali Xin’er sebagai manusia. Akhirnya, menghilangnya Xin’er pun semakin memperkuat permusuhan antara Suku Langit dan Suku Iblis karena Suku Langit dianggap menjadi penyebab utama hilangnya Xin’er dari alam semesta ini.
          Selain Xin’er, rupanya sejak hari itu, Ah Xuan juga menghilang tanpa jejak. Para dewa ditugaskan untuk menemukan keberadaan Ah Xuan, namun tidak satupun ada yang berhasil menemukan Ah Xuan. Sama sekali tidak ada yang tahu bagaimana nasib Ah Xuan setelah masuk ke dalam Mimbar Eksekusi. Beberapa berpikiran mungkin Ah Xuan juga jatuh ke dalam lubang hitam itu bersama Xin’er. Namun tidak ada tanda bahwa seorang dewa turun ke dunia manusia jika Ah Xuan benar-benar masuk ke dalam Mimbar Eksekusi. Hingga akhirnya, perlahan semuanya melupakan Ah Xuan, meskipun masih ada yang tidak menyerah untuk mencari keberadaan Ah Xuan, yaitu Fanxing.
***

Beberapa tahun yang lalu…
Angin yang berhembus di musim gugur ini membuat lonceng-lonceng yang tergantung di sebuah kuil di puncak Gunung Yongyuan berdenting. Seiring dengan angin yang terus berhembus dan menerpa lonceng-lonceng itu, suaranya kian nyaring dan berbunyi dengan merdu layaknya alunan sebuah lagu yang akhirnya akan menyambut Festival Tahunan Bunga Persik yang selalu dirayakan oleh para manusia di Bumi. Di bawah sebuah pohon persik yang terletak tak jauh dari kuil bernama Kuil Yongsheng itu berada, tampak seorang gadis yang tengah meniup seruling dan menyesuaikan lagu yang dia mainkan dengan dentingan-dentingan lonceng itu. Alunan seruling yang dia padu padankan dengan dentingan lonceng itu membuat suasana di sekitar Gunung Yongyuan menjadi tampak hidup dan bahagia karena burung-burung dan binatang lain seperti kelinci, rusa, bahkan harimau dan singa turut mendengarkan keindahan alunan musik itu.  
          Dari kuil, tampak seorang pemuda tampan yang tengah memejamkan matanya untuk turut menikmati alunan seruling yang berpadu dengan lonceng-lonceng di atas kepalanya itu. Matanya terpejam sempurna seolah dia tidak mau ada satupun yang mengganggu saat-saat indah yang jarang sekali dia dapatkan. Pemuda tampan itu masih asyik menikmati alunan musik itu hingga ia tak mempedulikan saat kelopak-kelopak bunga persik yang berguguran menerpa wajahnya, menawarkan keharuman yang selalu menjadi kesukaannya itu.
          Secara tiba-tiba alunan seruling itu terhenti dan membuat mata indah pemuda tersebut terbuka dengan sempurna. Hingga akhirnya, untuk menghilangkan rasa penasarannya, dia pun mendatangi sumber suara alunan seruling itu semula berada untuk menemukan siapa seseorang yang mampu membuat alunan musik yang begitu indah hingga sanggup menyelaraskan alam di sekitarnya itu. Pemuda itu pun menghentikan langkahnya di bawah pohoh persik yang dia yakini merupakan sumber suara alunan musik yang menenangkan jiwanya itu berada. Namun sesampainya di sana, justru ia tak menemukan siapapun selain burung-burung yang masih setia bertengger di atas pohon juga kupu-kupu yang sibuk terbang untuk menghirup harumnya bunga persik.
          “Siapa yang membuatmu terluka seperti ini?”
          Terdengar suara seorang gadis di balik pohon persik. Mendengar suara itu, pemuda itu pun segera menghampiri dan menemukan seorang gadis berpakaian serba hitam terduduk sambil mengobati seekor kelinci yang kakinya terluka. Pemuda itu menatap sebuah seruling berwarna putih yang digantungkan pada pakaian gadis itu. Dari sana lah, dia yakin bahwa sang gadis ini lah yang memainkan musik tadi.
          “Siapa kau?!” tanya gadis itu seraya menghunuskan pedangnya dengan tiba-tiba pada si pemuda itu.
          Menyadari bahwa ada yang mengawasinya, jelas gadis tersebut mencoba membuat pertahanan. Terlebih, aura pemuda yang mengawasinya itu berbeda dari auranya.
          “Tenang, aku bukan orang jahat,” ucap pemuda itu.
          Gadis cantik itu menatap sang pemuda dengan mata menyelidik dan memperhatikan pemuda itu dari kepala sampai ujung kaki.
          “Kau dari Sembilan Langit?” tanya gadis itu.
          “Benar,” jawab pemuda itu.
          Gadis itu masih belum menurunkan pedangnya. Dia tahu benar bahwa permusuhan antara sukunya dan Suku Langit sudah terjadi sejak alam semesta diciptakan, sehingga dia masih berjaga-jaga jika saja pemuda dari Suku Langit itu tiba-tiba menyerangnya.
          “Namaku Ah Xuan,” ucap pemuda itu sambil tersenyum.
          Gadis itu tampak heran dengan perkenalan tiba-tiba yang dilakukan pemuda tampan di hadapannya itu saat dia bahkan tidak menanyakan namanya.
          “Aku datang ke mari bukan untuk menyerang atau melukaimu, tapi karena aku mendengar sebuah alunan seruling dan aku penasaran dengan yang terjadi saat suara seruling itu tiba-tiba berhenti,”
          Ah Xuan berusaha menjelaskan maksud kedatangannya pada gadis itu karena Ah Xuan pun tahu benar mereka berasal dari dunia yang berbeda. Bahkan bukan hanya berbeda, namun justru dunianya dengan dunia gadis itu telah menjadi musuh bebuyutan dan sangat sukar untuk berdamai.
Akhirnya sang gadis menurunkan pedangnya.
          “Alunan seruling yang kau mainkan sangat indah,”
          “Dari mana kau tahu aku yang memainkannya?”
          “Bukankah sangat jelas kau yang memainkannya karena seruling berwarna putih itu tergantung di pakaianmu,”
          Gadis itu menyadari bahwa dia lupa menyembunyikan serulingnya.
          “Siapa namamu?”
          “Kau tidak perlu tahu,”
          “Mengapa?”
          “Kita berasal dari dunia yang berbeda, dan kurasa tidak penting untuk memberitahukan namaku padamu,”
          Ah Xuan hanya tersenyum saat mendengar jawaban gadis yang mulai menarik perhatiannya itu.
          “Aku harus pergi,” ucap gadis itu.
          Saat gadis itu hendak, pergi, Ah Xuan menarik tangannya dengan lembut.
          “Berjanjilah bahwa kita harus bertemu lagi,” ucap Ah Xuan seraya memberikan senyuman terbaiknya.
          Gadis itu mencoba menepis tangan Ah Xuan, namun melalui genggaman tangan Ah Xuan di tangannya, gadis itu dapat merasakan perasaan yang coba Ah Xuan sampaikan.
          “Tidak mau,”
          “Kalau begitu, aku akan mencarimu ke Suku Iblis,”
          Ah Xuan pun melepaskan tangan gadis itu dan membiarkan gadis itu terbang pergi bersama dengan kelopak-kelopak bunga persik yang terbawa angin.
          “Oh?”
          Ah Xuan menemukan sebuah gantungan kecil giok berwarna hijau, berbentuk bulat dan bertali merah tergeletak di tanah di antara kelopak-kelopak bunga persik yang berserakan. Ia pun mengambilnya dan ia yakin bahwa itu milik sang gadis yang sanggup mengalihkan seluruh perhatiannya semenjak pertemuan pertama itu. Rupanya pada gantungan giok itu tertulis sebuah nama.
          “Xin’er… Rupanya itu namamu,”
***

          Semenjak pertemuan pertama di Kuil Yongsheng, Ah Xuan dan Xin’er semakin sering bertemu. Mereka bahkan menghabiskan saat-saat bersama, entah itu dengan sekedar bersantai di bawah pohon persik tempat pertemuan pertama mereka, atau bermain bersama binatang-bintang di Hutan Zhen’ai.
          Hari demi hari kebersamaan Ah Xuan dan Xin’er semakin dekat. Bahkan meskipun tanpa saling mengucapkan, namun Ah Xuan dan Xin’er sama-sama merasakan sebuah perasaan bernama cinta. Namun sayangnya, di balik kebahagiaan mereka, ada jurang pemisah yang begitu dalam yang entah kapan akan ada jembatan yang mampu menghubungkan jarak antara Ah Xuan dan Xin’er. Permusuhan antara Suku Langit dan Suku Iblis yang telah berlangsung sejak terciptanya alam semesta ini membuat Ah Xuan dan Xin’er menyadari bahwa cinta mereka adalah cinta terlarang. Meskipun mereka tahu benar hal itu, mereka masih memperjuangkan cinta mereka. Namun, seperti apakah akhir dari kisah cinta Ah Xuan dan Xin’er? Dapatkah pada akhirnya mereka bersama atau justru permusuhan di antara kedua suku asal mereka akan memisahkan mereka?
-----
To be continued…


Comments

Popular This Week

오라, 행운이여 (Come, O Fortune) - HeMeets

생각해 그동안 겪은 수모와 설움 너는 잊을 수 있어 절대로 안 되지 다 갚아줘야지 내 안에 악마는 오늘도 속삭여 비운으로 가득한 내 오늘을 다시 움켜쥐어 생이 공평하다지 운에 총량이 있다면 신이시여 이제 때가 되지 않았을까요 오라 행운이여 나도 한 방 날리게 비틀린 운명도 춤추게 사알짝 빛나게 오라 행운이여 맘껏 흔들리게 고장 나버린 운명을 나의 편으로 삼게요 아무도 모르게 세운 눈물의 밤들 너는 덮을 수 있어 일어나 단순해 그러나 천천히 더 이상 여기서 도망치지 않아 비운으로 가득한 내 오늘을 다시 움켜쥐어 생이 공평하다지 운에 총량이 있다면 신이시여 이제 때가 되지 않았을까요 오라 행운이여 나도 한 방 날리게 비틀린 운명도 춤추게 사알짝 빛나게 오라 행운이여 맘껏 흔들리게 고장 나버린 운명을 나의 편으로 삼게요 나이테 늘어나듯 날 둘러싸는 무거운 감정들과 이런 나도 웃을 수 있을까 비틀린 운명도 춤출 수 있다면 제발 제발 제발 제발 그게 내가 되길 오라 행운이여 나도 한 방 날리게 비틀린 운명도 춤추게 사알짝 빛나게 오라 행운이여 맘껏 흔들리게 고장 나버린 운명을 나의 편으로 삼게요 우우우 우 또 진다면 그게 뭐 어쨋다구 행운이여 (행운이여) 행운이시여 (행운이시여) 행운이시여 (행운이시여) 행운이여 (행운이여) 행운이시여 (행운이시여) 행운이시여 (행운이시여) 한 방 날리게 행운이여 (행운이여) 행운이시여 (행운이시여) 행운이시여 (행운이시여) ------ source: genie Romanised by JHnimm  

Popular All the Time

ONESHOOT = 아직은 안녕 우린 안돼요/ We can’t Separated Yet

아직은 안녕 우린 안돼요 We can’t Separated Yet Black Romance present special JH_Nimm’s birthday 2 A story by JH_Nimm ( http://jh-nimm.blogspot.com , http://www.twitter.com/JH_Nimm ) Title: 아직은 안녕 우린 안돼요 Also known as: We can’t Separated Yet Genre: Romance, Sad, Hurt, Family Rating : T Length : Oneshoot Disclaimer: Ini FF murni hasil dari pemikiran saya dan bukan hasil plagiat. So , jangan di Co-Pas seenak jidat, jangan di re-share tanpa seizin saya dan jangan di plagiat. Ini FF spesial ulang tahun saya. Like it, leave your comment, please… dislike it, don’t bashing, please… NO silent reader! Happy Reading… Gomawo…^^ Back sound      : Evanescence – My Immortal Main Cast: Lee Ji Hyeon EXO M’s Li Jia Heng (Kris) as Wu Yi Fan F(x)’s Victoria as Song Qian EXO M’s Luhan as Xi Lu Han Lee Jung Kwon Wu Xian Hua and other cast   = PROLOG = I want to learn all about you What do you lik...